Irma : Pembelajaran Berdiferensiasi, Nyawa Kurikulum Merdeka di Kutim
Irma Yuwinda
POSKOTAKALTIMNEWS.COM, SANGATTA- Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) dari guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Plt. Kadis Pendidikan, Irma Yuwinda mengatakan Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
"Pembelajaran diferensiasi sebagai profil pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Dimana mengharuskan pendidik mencurahkan perhatian dan memberikan tindakan untuk memenuhi kebutuhan khusus siswa sehingga memungkinkan guru melihat pembelajaran dari berbagai perspektif," ungkap Irma kepada awak media di Ruang Meranti kantor Bupati Kutim, Senin (14/11/2022).
Pembelajaran diferensiasi tentunya bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan. Adapun fokus perhatian dalam pembelajaran diferensiasi adalah kepedulian pada siswa dalam memperhatikan kekuatan dan kebutuhan siswa.
Pembelajaran diferensiasi adalah proses siklus mencari tahu tentang siswa dan merespons belajarnya berdasarkan perbedaan.
"Ketika guru terus belajar tentang keberagaman siswanya, maka pembelajaran yang profesional, efesien, efektif, dan menyenangkan akan terwujud," ujarnya.
Pembelajaran diferensiasi berarti mencampurkan semua perbedaan untuk mendapatkan suatu informasi, membuat ide dan mengekspresikan apa yang mereka pelajari. Dengan kata lain bahwa pembelajaran diferensiasi adalah menciptakan suatu kelas yang beragam dengan memberikan kesempatan dalam meraih konten, memproses suatu ide dan meningkatkan hasil setiap murid, sehingga murid-murid akan bisa lebih belajar dengan efektif.
“Dalam pembelajaran diferensiasi seorang guru harus konsisten dan proaktif dalam mencari jalan untuk membantu murid-muridnya belajar sehingga akan mencapai kesuksesan dalam mencapai atau meraih proses pembelajaran di kelas," imbuhnya.
Sebagai contoh, apabila guru memberikan tugas membaca kepada murid-muridnya, guru harus mengetahui tingkat level kemampuan membaca muridnya sehingga memberikan tugas membaca sesuai dengan tingkat level membaca murid tersebut dan juga bisa mengaitkannya dengan ketertarikan dari murid tersebut.
"Sehingga pembelajaran diferensiasi tidak menambah beban murid dalam belajar tetapi justru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan merangsang anak untuk terus belajar dan mencapai kesuksesan dalam belajar," tandasnya.
Pada hakikatnya pembelajaran diferensiasi sebagai pembelajaran yang memandang bahwa siswa itu berbeda dan dinamis. Oleh karena itu, sekolah harus memiliki perencanaan yang matang dalam pembelajaran berdiferensiasi ini.
Adapun tujuan dari pembelajaran diferensiasi yakni menjalin hubungan yang harmonis guru dan siswa. Pembelajaran berdiferensiasi meningkatkan relasi yang kuat antara guru dan siswa sehingga siswa semangat untuk belajar.
Untuk membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri. Jika siswa dibelajarkan secara mandiri, maka siswa terbiasa dan menghargai keberagaman.
Untuk membantu semua siswa dalam belajar. Agar guru bisa meningkatkan kesadaran terhadap kemampuan siswa, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh seluruh siswa.
Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Agar siswa memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tingkat kesulitan materi yang diberikan guru. Jika siswa dibelajarkan sesuai dengan kemampuannya maka motivasi belajar siswa meningkat.
Untuk meningkatkan kepuasan guru. Jika guru menerapkan pembelajaran diferensiasi, maka guru merasa tertantang untuk mengembangkan kemampuan mengajarnya sehingga guru menjadi kreatif.
"Alhasil, pada dasarnya semua anak itu belajar akan tetapi mereka mempunyai kemampuan yang berbeda-beda di dalam kelas yang sama. Sehingga seorang guru harus teliti dan menyadari tingkat kemampuan dan guru harus memahami tahapan cara dalam memulai pembelajaran diferensiasi," tutupnya.(ADV)